Untuk Romo Tercinta

Untuk Romo Tercinta

Minggu lalu Moderator Romo pembimbing saya di Komunitas St. Thomas, Pastur Yustinus merayakan ulang tahunnya yang ke-41. Beberapa hari sebelumnya saya ketiban ‘rejeki’ diberi tugas oleh pembimbing rohani saya untuk memikirkan isi acara untuk perayaan tersebut. Nah, salah satu hasil dadakan adalah membuat video ini. Biasanya tugas saya cuma bikin cerita, ngumpulin orang en directing doang, sementara ada teman2 saya yang asli tukang shooting profesional yang pegang kameranya. Tapi karena bulan Mei ini ternyata mulai ngetren jadi bulan kawinan, jadinya teman2 ini pada full full full schedulenya. Jadilah saya coba2 bikin video sendiri… en taradataaaa…. hasilnya ternyata oke juga untuk ukuran emak2 😀

Top 10 Journal From 2010

Top 10 Journal From 2010

See something different in my blog? Saya baru aja mengotak-atik lagi blog ini. Gara2nya kepengen baca dari hp ato ipad dengan format responsive. Design blog saya yang lama kurang mendukung format ini, plus ada beberapa fasilitas yg kudu ditambahkan atau di-upgrade biar memudahkan teman2 yang membaca. Beberapa yang saya tambahkan adalah : tombol ‘like’ yang engga ribet pake daftar nama en email segala; design yang lebih clean and ga sepanjang2 gaban kalo dibuka via hp (jadi downloadnya lebih cepat);

No Need To Wait For Norway

No Need To Wait For Norway

Pagi ini ketika saya ke pasar dan sedang membeli daging, seperti biasa saya kudu memberi kesabaran ekstra soalnya kalo di pasar emak2 itu ga mengenal budaya antri, pokoke langsung datang, sikut sana sikut sini en langsung nyerocos ‘ko… kapsim minyak 1/2, bakut 1/4, cincang pake minyakkk 1/2!’ tanpa ambil pusing yang ngantri didepannya masih sekampung. En saya paling mabok kalo denger enci2 nawar sambil tereak2 ‘hah?? yang sono tadi cuma dua-tiga! lu kok dua-empat sih?!’ en setelah adu kenceng sama penjual hampir 5 menit akhirnya… ‘sudah sudah…! nih nih… dua-tiga-setengah!’.

Saya sih bukannya mau cerita tentang situasi pasar hari ini, tapi saya tertarik sewaktu si engko penjual daging tiba2 bilang begini sama enci di sebelah saya setelah adu nawar lima ratus perak, ‘Ci.. ci… mau tanya nih, kenapa ya kalo abis sincia nih yang beli pada galak2?’… ee.. si enci bales begini, ‘galak laa… abis sincia uda keluar duit banyak!’

Kemaren saya juga sempat ngobrol sama salah satu pegawai Apple store, sewaktu iseng nanya2 harga Iphone 6 yang terbaru berapa duit, sambil ckk ckk ckk denger angka belasan juta rupiah… harga yang dibandrol super tinggi dibanding negara asal… si Mas yang baik hati itu bilang, ‘tapi mbak, itu Iphone 6-nya laku banget kayak kacang goreng, stock-nya habis mulu.’ Saya iseng nanya soalnya ences juga ngeliat gadget shiny bling2, padahal saya tau betul ini termasuk kategori kepingin memiliki barang2 terbaru en up-to-date padahal saya tidak membutuhkan barang2 tersebut.

Belakangan saya agak2 kesel karena kehilangan ide untuk menulis (…yup!… gone…buff…dissapear…), hal yang mengerikan bagi yang punya blog seperti saya. Rasanya kok saya gagal bener jadi orang soalnya ga disiplin menulis, ga kreatif cari ide, sehingga ga bisa eksis dan punya follower sampe 1 juta pembaca. Saking pasrahnya saya pikir ya wes lah kalo ga ada topik bombastis macam jalan2 ke Norway misalnya untuk ditulis, ya biarin ajalah nih blog lama2 mati suri hehe…

A (Not So) Brand New Year

A (Not So) Brand New Year

I want to say ‘Happy New Year’ to all families and friends that read my blog, walaupun satu bulan sudah berlalu di tahun 2015 (cepat banget yaa!), tapi awal tahun tetap terhitung tahun yang baru, semangat yang baru dan pengharapan yang baru!

Ketika saya flashback apa yang terjadi di sepanjang 2014, apalagi kalau cuma based on year review yang ditulis di medsos macam FB ato instagram, bisa dipastikan hidup saya super duper indah. Dalam setaon bisa jalan2 sampe 4x! Dua kali di negeri orang, dua kali di negeri sendiri, sampe2 ada yang tanya ke saya kapan mau berangkat jalan2 lagi, en pengen ikut sekalian dibeliin tiket… alamakk!! Dikirain saya Super Rich Texas’s Wife yang tinggal klik SQ online en langsung terbang dinner di Marine Bay Sands, ato business woman yang kudu flying here and there buat ketemu klien.

No Fear

No Fear

Sebagai penghuni terakhir yang tidur di malam hari, kebiasaan saya sebelum tidur adalah mendatangi kamar 3 teddies, dan mungkin seperti kebanyakan emak2 lainnya saya akan menyelimuti mereka, membenarkan posisi tidur kaki si Mei2 yang sedang nangkring di dadanya Koko, atau mengembalikan guling Cece yang dari dipelok berubah fungsi menjadi keset. Agenda yang paling utama sih membawa raket listrik sambil menyelinap diam2 macam Jason Bourne lagi mengincar nyamuk2 yang berani menggigit anak saya.

Heaven

Heaven

Kemaren salah satu senior marketing di kantor Erwin dipanggil Bapa di surga. Saya sendiri kenal Ci Aan sudah tahunan, beliau adalah salah satu pekerja keras yang engga bisa diem atau duduk santai2. Baru sejak 2 taon belakangan ini, ketika penyakitnya menuntut dia harus total beristirahat di rumah, saya jarang bertemu dengannya. Ketika di akhir hidup hayatnya, walaupun setiap dari kami sedih, tetapi kami juga bersyukur karena akhirnya Ci Aan bisa lepas dari sakit di badannya dan beristirahat dengan tenang di samping Tuhan. Saya jadi kepengen menulis tentang akhir hidup manusia ini di blog (en pas banget Knockin’ On heaven Doors-nya Guns N’Roses lagi kedengeran di iTunes). Karena saya ingat, pertama kali saya memulai blog juga karena ada teman papa saya meninggal secara mendadak. Kematian selalu mengingatkan saya bahwa hidup itu teramat sangat berharga, sehingga saya memulai blog dengan harapan bisa menulis segala hal yang terjadi di dalam hidup saya, just to remember every moments count.